Holocaust adalah suatu istilah yang sudah cukup terkenal di seantero dunia. Holocaust selalu merujuk ke arah pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi oleh pasukan NAZI semasa perang dunia II dulu. Di ceritakan bahwa sebanyak 6 juta Yahudi telah menjadi korban Holocaust kaum NAZI. Bagi masyarakat Eropa khususnya, Holocaust adalah horror yang merupakan tragedy kemanusiaan sepanjang sejarah manusia. Holocaust adalah suatu perwujudan neraka yang turun ke Bumi. Holocaust adalah suatu kejadian yang tabu bagi seorangpun untuk meragukan atau menolaknya. Namun bagi saya pribadi, jika mengamati cerita Holocaust justru menemukan banyak kejanggalan-kejanggalan dalam cerita ini. Bagi saya, cerita Holocaust hanyalah omong kosong belaka yang hanya berguna untuk kepentingan politik Yahudi-Zionis saat ini.

Hal yang membuat merasa janggal dengan mitos Holocaust ini adalah mengenai cara atau langkah pengumpulan orang-orang Yahudi. Perlu diingat bahwa holocaust terjadi semasa perang dunia kedua, yaitu pada tahun 1939-1945 (holocaust: 1942-1945). Pada masa itu alat-alat transportasi tidaklah secanggih masa kini. Infrastruktur transportasi yang ada di setiap propinsi di Eropa pun tidaklah merata merata seperti saat ini. Masih banyak propinsi-propinsi yang bahkan hanya mempunyai jalan tanah yang sempit. Tidak setiap propinsi mempunyai akses untuk dilalui kendaraan bermotor. Tidak ada cukup waktu 3 tahun itu untuk mengumpulkan sebanyak 6 juta orang yahudi dari seluruh penjuru Eropa: menyortirnya dari ras-ras lain, di sensus dan kemudian diangkut menuju kamp-kamp konsentrasi yang jumlahnya hanya beberapa buah saja. Dengan nalar, manusia paling bodoh pun tahu kalau hal semacam ini sama sekali tidak mungkin!

Sekarang kita gunakan nalar matematis saja. Jika di bagi secara merata, maka tiap-tiap kamp konsentrasi akan memuat sebanyak 1 juta orang. Bila benar para Yahudi itu dibunuh untuk kemudian dibakar di tungku pembakaran, maka paling tidak tiap tungku pembakaran hanya akan bisa membakar paling tidak 3 orang sekaligus selama 15 menit. 1 juta dibagi 3 berarti setiap tunggu maksimal secara keseluruhan telah membakar habis tubuh manusia sebanyak (kurang lebih) 333.333 sesi pembakaran! Bila dikalikan dengan waktu yang dipakai untuk membakar adalah sebesar (kurang lebih) 4.999.995 menit atau 3472 hari dan bekerja 24 jam non-stop!. Jika pun jumlah tungku pembakaran ada 3 buah pun tak akan cukup waktu (padahal tiap kamp konsentrasi kebanyakan hanya ada 1 tungku, hanya yang paling besar:
AUSCHWITZ yang punya 3 tungku)! Suatu Hal yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak rasional sama sekali! Perhitungan itupun tanpa memperhatikan hambatan-hambatan yang terjadi bila tungku pembakaran rusak, factor pelapukan tungku karena panas, factor kondisi perang, factor transportasi, factor bahan bakar, factor musim – cuaca dan lain-lain. Pergunakanlah nalar, maka semua ini akan terlihat seperti omong kosong belaka. Angka 6 juta ini benar-benar isapan jempol anak bayi…

Perlu kita ingat bahwa saat peristiwa Holocaust ini berlangsung, Jerman sedang berperang gila-gilaan dengan Soviet di front timur dan pasukan sekutu di Front barat. Hampir semua sumber daya bangsa Jerman dikerahkan untuk berperang melawan Soviet & Sekutu, dari segala macam alat transport hingga bahan bakar (baik batu bara ataupun minyak). Tidaklah masuk akal bila Jerman mengerahkan semua sumber dayanya untuk berperang melawat Soviet – sekutu, dan Holocaust itu sendiri masih berlangsung! Dengan apa mereka mengangkut jutaan Yahudi itu ke kamp-kamp konsentrasi? Kalaupun ada alat transport, lalu dengan apa kendaraan-kendaraan itu berjalan? Karena di tanah soviet sendiri, tank-tank jerman banyak yang mogok karena kurang bensin. Dan di Front barat, banyak meriam penangkis udara yang macet karena kurang minyak pelumas. Singkatnya mulai dari tahun 1944 Jerman sudah mulai kekurangan sumber daya alam untuk melanjutkan perang, apalagi sekedar menjaga agar api tungku pembakaran manusia supaya hidup terus, masuk nalar tidak?

Dan bukti terakhir yang menurut saya tidak boleh diabaikan begitu saja dan yang paling penting: Tidak satupun dokumen kaum NAZI yang berisi tentang perintah-perintah khusus terhadap pembantaian kaum Yahudi. Padahal mestinya, bila ada tindakan Holocaust, sekecil apapun Holocaust itu pastinya merupakan tindakan yang terorganisir rapi, apalagi Holocaust NAZI ini kan sangat digembar-gemborkan sangat rapi, terencana dan sistematis (adanya pasukan khusus dan kamp-kamp konsentrasi). Tak mungkin bila operasi Holocaust canggih semacam ini tidak mempunyai dokumen atau perintah resmi dedengkot-dedengkot NAZI. Secanggih apa sih badan Intelejen NAZI hingga bisa memusnahkan dan merahasiakan semua tentang peristiwa Holocaust ini? Sehingga semua cerita mengenai proses Holocaust ini hanya berdasarkan kesaksian Yahudi dan kesaksian prajurit Amerika?. Bahkan badan Intelejen tercanggih masa kini seperti CIA atau Scotland Yard saja masih sering bocor, padahal hanya menyangkut rahasia-rahasia dalam negerinya sendiri.

literatur-literatur mengenai Holocaust pun semuanya didominasi oleh penulis-penulis Yahudi, tak ada satupun sumber yang berasal dari bangsa lain, seperti Russia atau Jerman sendiri. Buku-buku yang beredar kebanyakan merupakan buku-buku mengenai penceritaan oleh saksi mata/korban, bukan buku hasil dari riset ilmiah lapangan. Jikapun di Indonesia terdapat buku-buku yang menceritakan Holocaust, maka bisa dipastikan sumber literature berasal dari penulis Eropa (Yahudi), seperti Bambang atau Ojong, karena belum pernah ada penulis Indonesia yang pergi ke Jerman sana dan melakukan penyelidikan sendiri, bahkan mereka sendiri mungkin belum pernah menginjakkan kaki di kamp-kamp konsentrasi itu. Belum pernah ada satupun ilmuwan yang nyata-nyata menulis tentang kepalsuan Holocaust yang diakui oleh Internasional. Karena, Di Eropa pada khususnya, segala macam hal yang mempertentangkan kaum Yahudi dianggap sebagai tindakan Anti-semetis yang rasial, dan di Eropa sana, tulisan saya ini pun bisa dikatakan melanggar hukum dan ada sanksi pidananya..

Akhir kata, saya menganggap bahwa holocaust ini adalah suatu omong kosong belaka. Terlalu banyak kebohongan dalam peristiwa ini. Jika suatu sejarah sudah banyak diisi dengan kebohongan, maka keabsahan sejarah itu sendiri menjadi pudar, bahkan bisa dibilang palsu. Saya mengatakan ini karena saya berpikir sesuai dengan prinsip disiplin ilmu pengetahuan: ilmu pengetahuan dapat dikatakan “ilmu pengetahuan” itu sendiri bila terbukti benar (banyak bukti pendukung), bukannya terbukti banyak kebohongannya.